Teknologi Self-Heating : Produk Inovatif, Praktis dan Efisien dalam Memasak Makanan Instan Kapanpun dan Dimanapun Tanpa Menggunakan Sumber Panas Konvensional

Please log in or register to like posts.
News

 

 

Sumber:https://shopee.co.id/product/323425968/11032839345?smtt=0.126674922-1632655906.3

 

Disruption era atau era disrupsi merupakan sebuah era dimana kita hidup saat ini. Pada era ini persaingan di segala bidang semakin ketat dan berat. Berbagai inovasi bermunculan dengan cepat di segala sendi kehidupan, mulai dari ekonomi, pendidikan, manajemen, teknologi dan masih banyak lagi. Individu atau kelompok yang tidak dapat mengejar inovasi tersebut akan tergerus oleh zaman dan akhirnya tenggelam dalam keterpurukan. Secara singkat disrupsi menurut Kasali (2019) adalah inovasi, inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara yang baru, menggantikan pemain-pemain lama dengan yang baru, menggantikan teknologi lama yang serba fisik dengan teknologi digital yang menghasilkan sesuatu yang benar-benar baru dan lebih efisien juga lebih bermanfaat. Senada dengan pernyataan diatas Clayton Christensen berpendapat bahwa “Disruption menggantikan ‘pasar lama’, industry, dan teknologi, dan menghasilkan suatu keterbaruan yang lebih efisien dan menyeluruh, dimana ia bersifat destruktif dan creative”.

 

Ada sedikit perbedaan antara disrupsi dan inovasi, dimana inovasi (innovation) dapat diartikan membuat sebuah hal baru (doing the new thing) sementara disrupsi (disruption) lebih mengacu pada membuat banyak hal baru, sehingga yang lama menjadi ketinggalan zaman atau kuno (doing things differently – so others will be obsolete) (Kasali, 2019). Model perubahan yang paling kentara adalah percepatan di segala bidang kehidupan. Semua orang dituntut untuk lebih cepat dan efisien, alhasil kepraktisan atau instant menjadi pilihan. Cara-cara konvensional sudah banyak ditinggalkan, tergusur oleh cara-cara yang lebih modern yang mengedepankan nilai pragmatis. Kata “praktis” di era kontemporer sudah menjadi sebuah kata yang menjual dimana dianggap sebagai penambah nilai suatu produk. Ketika sebuah produk dipasarkan dan dilabeli dengan nilai kepraktisan, produk tersebut akan bersaing dengan produk lainnya dan berpotensi besar untuk dilirik oleh konsumen.

 

Salah satu sektor dari berbagai sektor yang ada dimana produknya sudah terdisrupsi adalah sektor pangan. Sudah banyak produk makanan yang memiliki inovasi menarik yang bersifat pragmatis dan tentunya diminati banyak konsumen. Inovasi yang dihasilkan sangat beragam mulai dari cara mengolahnya, fungsinya, serta khasiat yang ditawarkan. Inovasi yang paling dikenal dan banyak diaplikasikan dimana pangsa pasarnya banyak adalah produk instant. Produk instan sangat tepat guna dan relevan dengan kondisi dunia saat ini. Kata instan dalam KBBI memiliki artian langsung (tanpa dimasak lama) dapat diminum atau dimakan (tentang mi, sup, kopi, susu bubuk). Berkaca dari pengertian tersebut kata instan mengacu pada pemotongan proses, dimana berkorelasi langsung dengan waktu. Proses yang sebelumnya panjang menjadi lebih pendek, dimana secara langsung waktu yang diperlukan juga semakin sedikit. Salah satu produk makanan instan yang belum lama ini sempat menjadi bahan perbincangan di dunia maya adalah produk instant dengan konsep self-heating. Untuk menikmati makanan instan ini tidak memerlukan sumber panas konvensional seperti kompor gas atau kompor listrik.. Produk tersebut hanya memerlukan air agar bisa dinikmati atau disajikan dalam keadaan panas seperti baru dimasak. Produk instan tersebut dilansir dari platform berita online suara.com dinamakan Instant Self Heating Hot Pot.

 

Berdasarkan pemaparan Nariswari (2020) dalam kanal berita online suara.com produk ini hanya memerlukan 250 mL air bersuhu ruang untuk siap dinikmati. Rahasia dari produk dengan konsep self-heating ini adalah senyawa kalsium oksida atau lebih dikenal sebagai kapur tohor. Senyawa kimia tersebut berfungsi sebagai heating agent atau agen pemanas. Kapur tohor diperoleh dari hasil pembakaran kapur mentah (kalsium karbonat atau CaCO3) pada suhu kurang lebih 90 derajat Celcius. Senyawa berwarna putih ini jika terkena atau dikenai air (H2O) akan bereaksi dengan air dimana reaksinya akan menghasilkan panas dan berubah menjadi kapur padam (kalsium hidroksida, CaOH). Reaksi kimianya adalah sebagai berikut CaO (s) + H2O (l) ⇋ Ca(OH)2 (aq) (Sutrisno, 2004). Pada proses tersebut reaksi yang terjadi adalah reaksi eksoterm dimana pada saat reaksi, terjadi pelepasan kalor dari sistem ke lingkungan. Berdasarkan pengamatan, kalor yang dilepas dalam prosesnya berupa panas, sehingga air akan mendidih lalu menguap. Sistem kemasan dari produk ini terdiri dari dua boks yang terintegrasi, dimana boks besar (bagian bawah) sebagai wadah pemanas dan boks kecil (bagian atas) sebagai wadah makanannya. Konsep self-heating dalam hal ini lebih mirip dengan proses mengukus makanan, dimana bahan pangan mentah dimasak dengan memanfaatkan uap yang dihasilkan dari proses reaksi yang dijelaskan sebelumnya.

Pemanas Instan Buatan Solo Foto : Bayu Ardi Isnanto/detik.com

 

Jika ditinjau dari segi keamanannya, menurut US Food and Drugs Administration (FDA) umumnya penggunaan kalsium oksida sebagai heating agent dikategorikan aman. Keamanan produk dengan teknologi self-heating sudah dibuktikan dengan banyaknya produk yang sudah diedarkan secara internasional. Konsep self-heating ini pada awalnya digunakan untuk kepentingan militer dimana dipergunakan dalam ransum tentara. Tidak sedikit juga yang mengkomersilkan jenis makanan instan ini untuk komunitas pencinta alam yang sering hiking atau sekedar berkemah ria. Produk ini mulai hype pada tahun 2020 ketika pandemi COVID-19 melanda, dimana penjualan produk instan ini meroket seiring kebijakan lock down diberlakukan di China. Pada akhirnya produk ini sudah tersebar ke penjuru dunia, termasuk Indonesia. Indonesia tahun lalu sudah memiliki produk instan serupa dengan varian makanan asli Indonesia. Berdasarkan pemaparan Isnanto (2020) dalam portal berita online detik.com, salah satu warga Solo sudah memproduksi makanan instan dengan konsep self-heating dengan varian makanan yang bercita rasa Nusantara. Produk dengan nama MakanKu tersebut memiliki varian gulai ikan, ayam balado, rendang dan masih banyak lagi. Agen pemanas yang digunakan juga sama yanki CaO yang dibuat dengan standar food grade, bahkan sudah ada lima macam varian yang sudah memiliki sertifikasi BPOM.

 

Zaman terus berubah, dimana berbagai inovasi terus menggempur dunia. Seolah menjadi tokoh utama, sains banyak merubah tata kehidupan kita sebagai manusia. Mulai dari hal pokok seperti makan sampai hal remeh seperti memesan sebuah kamar yang dapat kita lakukan hanya dengan jentikan jari. Tidak dapat kita sangkal kemudahan dari adanya teknologi juga memiliki dampak negatif, namun kita juga tidak bisa mengabaikan bahwa teknologi sudah banyak berkontribusi dalam kehidupan manusia. Katakanlah produk dengan konsep Self Heating Hotpot memiliki potensi limbah plastik yang besar, mengingat seluruh kemasannya masih menggunakan bahan plastik. Namun karena nilai produknya sangat besar serta permintaan konsumen juga tinggi, produk tersebut terus diproduksi dan dipasarkan. Sehingga penerapan kebijakan yang tepat untuk mengolah kembali limbah plastik yang dihasilkan bisa diterapkan. Bisa juga diterapkan konsep ekonomi sirkular untuk permasalahan plastik secara global, sehingga permasalahan limbah plastik bisa dikurangi. Pada akhirnya semuanya bergantung pada cara kita menyikapi fenomena tsunami teknologi ini. Jika kita bijak dalam memanfaatkan teknologi maka benefit yang akan kita dapatkan dari teknologi juga akan semakin besar. Nanum hal tersebut juga berlaku sebaliknya, jika kita tidak bijak dalam menggunakan teknologi maka teknologi akan merugikan kita sendiri.

Karya: Mohammad Rifqi Herdiansyah

 

 

 

Reference

______. https://kbbi.kemdikbud.go.id/. Diakses tanggal 22 September 2021.
______.https://shopee.co.id/product/323425968/11032839345?smtt=0.126674922-1632655906.3. Diakses 26 September 2021.
______.“New Source of Lead and Other Contamination”. Dalam https://web.archive.org/web/20070812132324/http://www.fda.gov/ora/inspect_ref/itg/itg17.html. Diakses 25 September 2021.
Isnanto, Bayu Ardi. 2020. “Pakai Pemanas Instan Buatan Solo, Gulai dan Tengkleng Siap Sekejap”. Dalam https://food.detik.com/berita-boga/d-5174855/pakai-pemanas-instan-buatan-solo-gulai-dan-tengkleng-siap-sekejap. Diakses 25 September 2021.
Kasali, Rhenald. 2019. Disruption. Jakarta : PT. Gramedia.
Nariswari, Arendya dan Hiromi Kyuna. 2020. “ Ajaib ! Tanpa Api dan Listrik Makanan Instan Ini Bisa Langsung Matang”. Dalam https://www.suara.com/lifestyle/2020/10/07/145849/ajaib-tanpa-api-dan-listrik-makanan-instan-ini-bisa-langsung-matang?page=all. Diakses tanggal 22 September 2021.
Sari, Yenny Mustika. 2020. “ Praktis! Netizen Ini Masak Mie Instan Pakai ‘Heat Pack’”. Dalam https://food.detik.com/info-kuliner/d-5304893/praktis-netizen-ini-masak-mie-instan-pakai-heat-pack. Diakses 24 September 2021.
Sutrisno, T. 2004. Teknologi Penyediaan Air Bersih. Jakarta : IKAPI Kanasius.

Comments

comments

Nobody liked ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *