Zoom Fatigue: Saat Tubuh Mulai Lelah Karena Terlalu Lama Mengikuti Konferensi Online

Please log in or register to like posts.
News

“Dunia yang terjangkit pandemik, mengharuskan kita melakukan segalanya dari rumah, akan tetapi kelelahan menjangkit mereka yang bekerja dari rumah”

Holla sobat kimia! Apa kabar kalian? Wah tentu baik-baik saja bukan? Semoga kita semua tetap sehat meskipun di masa pandemi yang belum kunjung usai. Kegiatan produktif masih harus tetap berlanjut walaupun dilakukan serba online. Hampir semua kegiatan sehari-hari yang semula dilakukan dengan beraktivitas di luar rumah sekarang harus serba online seperti bekerja, belajar, dan berkomunikasi. Kenaikan kasus positif dan kematian pun masih cenderung tinggi. Data dari Kementrian Kesehatan RI menunjukan, per 7 September 2021 angka positif berjumlah 4.140.634 kasus dan angka kematian berjumlah 137.156 kasus.

Pandemi Covid-19 mengharuskan sebagian pekerjaan dilakukan dari rumah/WFH (Work From Home), dan hanya sebagian kecil yang bekerja di kantor. Berbagai kegiatan di kantor seperti meeting, pelayanan publik, dan pengurusan arsip semuanya menjadi online. Begitu pula pada sektor pendidikan ; para pelajar dan pengajar sama-sama melakukan kegiatan pembelajaran secara online atau daring (dalam jaringan). Pembelajaran online ini bukan tanpa alasan, pembelajaran ini bertujuan untuk menekan angka penyebaran Covid-19.

Lalu, apa kabar dunia perkuliahan? Untuk tahun ajaran 2021/2022 akan dilaksanakan secara online dan wacananya akan dilaksanakan secara hybrid (kuliah online dan offline).

Pembelajaran daring memanglah solusi saat pandemi, akan tetapi  pembelajaran daring memiliki sisi negatifnya juga loh, mulai dari pembelajaran yang tidak efektif, menyerangnya rasa kantuk, belajar sambil rebahan, kurangnya interaksi, dan lain-lain. Pembelajaran yang dilakukan secara online memberikan efek yang nyata kepada para pelajar seperti rasa malas, kurangnya motivasi, rasa bosan, dan kelelahan. Kelelahan merupakan faktor yang paling menonjol dalam permasalahan pembelajaran online. Menurut Fauville, dkk., dalam jurnal yang berjudul “Zoom Exhaustion & Fatigue Scale” yang dipublikasikan kembali pada bulan Juni 2021, kelelahan saat melakukan atau setelah melakukan konferensi video melalui media apapun diistilahkan dengan nama “Zoom Fatigue”

Zoom Fatigue adalah kondisi di saat mata, badan, dan mental mengalami kelelahan karena terlalu lama melakukan konferensi online. Saat tubuh kita terbiasa melakukan aktifitas dengan menggerakan tubuh, tetapi sekarang melakukannya dengan menatap layar komputer atau layar ponsel menyebabkan ada anomali yang dialami tubuh. Rasa perih pada mata, bahu yang pegal merupakan beberapa gejala yang dialami oleh penderita zoom fatigue.

Penelitian yang dilakukan oleh Fauville tentang ZEF (Zoom Exhaustion & Fatigue Scale) pada responden dari berbagai etnik dan profesi melalui survey online yang dilakukan oleh Bailenson menunjukan bahwa kebanyakan orang hanya kadang-kadang mengalami kelelahan saat melakukan video konferensi. Indikator dari penelitiannya memiliki range antara point 1 = “tidak lelah sama sekali” hingga point 5 =”sangat lelah”. Dan data menunjukan bahwa rata-rata nilai ZEF menunjukan point 3 = ”kadang-kadang lelah”. Berikut adalah tabelnya.

Table 1. Table ZEF

Ada beberapa faktor mengapa kita dapat mengalami “Zoom Fatigue”. Menurut Bailenson (2021), empat faktor terjadinya “Zoom Fatigue” yaitu : a) kontak mata yang terlalu dekat dan juga sangat intens. Saat kita menatap layar handphone/komputer terlalu lama akan mengakibatkan otot mata menegang, itu yang menyebabkan kelelahan mata. b) melihat diri sendiri selama konferensi, Bailenson mengungkapkan, saat kita melihat melihat diri sendiri kita akan merespon lebih kritis, ini akan menjadi negatif apabila kita terlalu sering, karena dapat memicu stress dan dampak negatif. c) kurangnya mobilitas saat melakukan konferensi, saat kita melakukan konferensi video online kita akan duduk berjam-jam menatap layar, sedikit melakukan gerakan, ini menyebabkan kita kelelahan fisik. dan d) beban kognitif yang lebih tinggi, saat kita melakukan konferensi video otak kita akan bekerja lebih keras karena sulitnya menangkap informasi yang diberikan oleh pemateri, gerakan non verbal yang harus kita cerna akan lebih susah dipahami karena kita tidak bisa melihat seluruh gerak tubuh pemateri . Dari faktor-faktor ini oleh Bailenson dibuat menjadi 5 konstruksi kelelahan yaitu : kelelahan umum, kelelahan visual, kelelahan sosial, kelelahan motivasi dan kelelahan emosional.

Gangguan penglihatan akibat dari menatap komputer atau Computer Vision Syndrom adalah gangguan pada mata yang mengakibatkan mata kita menjadi kering, kemerahan, iritasi, ketegangan mata, mata lelah, penglihatan mata kabur sementara, sensitivitas cahaya, dan masalah otot pada mata (Wimalasurendra : 2006). Mata

manusia pada dasarnya susah fokus untuk melihat teks pada komputer, hal ini diakibatkan oleh Video Display Terminal (VDT). Pada layar komputer sebuah teks berbentuk sebagai pixel, dimana pixel merupakan potongan-potongan garis/titik yang kecerahannya berada di bagian tengah dan pada bagian luarnya kurang terang. Perbedaan cahaya ini mengakibatkan fokus yang konstan oleh badan siliaris menyebabkan kelelahan pada mata dan mengakibatkan gejala akomodatif yang berkaitan dengan CVS.

Melihat diri sendiri terlalu lama memunculkan reaksi Fight or Flight pada tubuh seseorang, Fight or Flight merupakan perilaku yang dipertahankan saat seseorang mengalami stress. Menurut Fuller Fight or Flight adalah perilaku yang dipertahankan dari vertebrata yang mengalami ketakutan, stress, atau latihan yang intens. Saat mengalami Flight or Flight tubuh akan melepaskan epinefrin dari medula adrenal dan norepinefrin dari ujung saraf simpatis mengaktifkan reseptor beta–adrenergik, menyebabkan meningkatnya Ca2+ tipe-L di otot jantung dan rangka, yang nantinya menyebabkan meningkatnya kekuatan kontraksi otot rangka dan kecepatan denyut jantung (Fuller, dkk: 2011).

Imobilitas mengakibatkan beberapa gangguan lanjutan terhadap tubuh kita, tidak hanya kelelahan fisik, imobilitas tubuh mengakibatkan gangguan sistem. Menurut Hidayat dampak dari imobilitas berdampak pada metabolisme tubuh, ketidak seimbangan cairan dan elektrolit, gangguan dalam kebutuhan nutrisi, gangguan fungsi gastrointestinal, perubahan sistem pernafasan, perubahan kardiovaskular, perubahan sistem muskuloskeletal, perubahan kulit, perubahan eliminasi. Metabolisme yang terganggu mengakibatkan proses anabolisme menurun dan proses katabolisme meningkat, masalah metabolism pun muncul seperti penurunan sekresi urine dan peningkatan nitrogen. Imobilitas juga mengakibatkan demineralisasi tulang yang diakibatkan oleh penurunan aktivitas otot.

Zoom fatigue dapat kita atasi dengan cara sebagai berikut : a) Terapkan prinsip 20-20-20, prinsip ini bertujuan untuk menjaga kesehatan mata dari kelelahan menggunakan gadget/komputer, saat kita melaksanakan konferensi online setiap 20 menit sekali kita menatap objek 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik. Aktivitas ini dapat ditambahkan dengan melihat objek hijau, bertujuan agar mata menjadi lebih rileks. b) Atur jadwal dengan baik, ini bertujuan untuk memberikan istirahat pada tubuh kita. c) Matikan tampilan Self View jika dirasa kurang nyaman melihat diri sendiri. d) Lakukan detoksifikasi digital, hindari menggunakan barang digital seperti handphone, televise, komputer, dll saat waktu istirahat. e) gunakan waktu kosong dengan berolahraga, guna memulihkan dan menyegarkan tubuh, sangat cocok dilakukan di akhir pekan.

Selain cara itu, Menurut Dr. Wahyuddin, Sst.Ft, M.Sc selaku dosen Fisioterapi di Universitas Esa Unggul bahwa zoom fatigue terjadi karena kesalahan posisi tubuh saat melakukan kegiatan meeting virtual, dan beliau menyarankan untuk melakukan gerakan Relaksasi Musculoskeletal setiap 30 menit. Gerakan Relaksasi Muskuloskeletal yaitu menggerakan bahu dan otot-otot disekitar tubuh.

“Posisi yang salah dapat mempengaruhi terjadinya Zoom Fatigue, salah satunya ketika tubuh membungkuk saat kita melakukan rapat atau pembelajaran online, kepala diletakan ke depan dan mata mengarah ke kamera webcam. Posisi ini dapat mempengaruhi postur, karena leher menanggung beban yang berat dari kepala,” ucapnya dalam Webinar bertajuk “Tips dan Trik Mengatasi Zoom Fatigue dengan Relaksasi Musculoskeletal dan Psikologi” yang diselenggarakan oleh Universitas Esa Unggull.

Jadi sobat kimia! sudah selayaknya kita selaku mahasiswa selain belajar dengan giat kita harus menjaga kesehatan fisik dan juga mental. Dengan kita mengetahui gejala serta penanganan zoom fatigue setidaknya kita berusaha untuk meminimalisir kelelahan saat melakukan pembelajaran online.

Karya: Haakim Kharisma

 

 

Daftar Pustaka

ADHA, S. (2017). KTI ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN MOBILITAS FISIK. Padang.
D. Fuller, M., A. Emrick, M., Sadilek, M., Scheuer, T., & Catterall, W. (2011). Molecular Mechanism of Calcium Channel Regulation in the Fight-or-Flight Response. National of Health Institutes, 1-19.
Fauville., d. (2021). Zoom Exhaustion & Fatigue Scale. Technology, Mind, & Behavior, 1-24.
Fauziyyah, R. (2021). Dampak Pembelajaran Jarak Jauh terhadap Tingkat Stres dan Kecemasan. Big Fokes Volume 1 Edisi 2 Tahun 2021, 113-123.
Priyono, & Ismail, Z. (2012). Teori Ekonomi. In Priyono, & Z. Ismail, Teori Ekonomi. Surabaya: Dharma Ilmu.
Ramachandran, V. (2021, February 23). News Stanford. Retrieved from Stanford Researchers Identify four Cause for ‘Zoom Fatigue’ and Their Simple Fixes: https://news.stanford.edu/2021/02/23/four-causes-zoom-fatigue-solutions/
Taufik, M. (2021, Mei 28). ITJEN KEMENDIKBUD. Retrieved from Bekerja secara Daring memicu Zoom Fatigue, Bagaimana Mengatasinya ?: https://itjen.kemdikbud.go.id/public/post/detail/bekerja-secara-daring-memicu-zoom-fatigue-bagaimana-mengatasinya
Unggul, U. E. (2001, Agustus 20). Universitas Esa Unggul Fakultas Fisioterapi. Retrieved from Menghindari Kelelahan Akibat Aktivitas Zoom (Zoom Fatigue), Begini Penjelasan dari Ahli Fisioterapi dan Psikologi UEU: https://fisioterapi.esaunggul.ac.id/menghindari-kelelahan-akibat-aktivitas-zoom-zoom-fatigue-begini-penjelasan-dari-ahli-fisioterapi-dan-psikologi-ueu/

Comments

comments

Nobody liked ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *